JURNAL MARITIM ASIA TENGGARA (JMAT) https://jurcon.ums.edu.my/ojums/index.php/jmat <p><em>Jurnal Maritim Asia Tenggara</em> or <em>Journal of Southeast Asia Maritime</em> (JMAT) was officially established on 1 August 2024, coinciding with the appointment of its first Editor-in-Chief. This journal is managed by the Blue Economy and Maritime Security Research Centre, housed within the Faculty of Social Sciences and Humanities at Universiti Malaysia Sabah and published by Universiti Malaysia Sabah Press. The establishment of this journal serves five primary objectives: (1) To create a scientific journal that focuses on maritime studies and marine affairs, (2) To facilitate the dissemination of research and writings by academics in related fields in the form of a peer-reviewed journal, (3) To position the journal as a key reference for academics conducting research in maritime and marine studies, (4) To serve as a platform for knowledge exchange between domestic and international scholars, and (5) To foster collaboration with universities and agencies engaged in maritime and marine-related disciplines in the co-publication of journals.</p> <p><strong>e-ISSN : 3093-7868</strong></p> en-US ismailrc@ums.edu.my (Ismail Ali) mos_79@ums.edu.my (Mosli Tarsat) Mon, 29 Dec 2025 20:52:01 +0800 OJS 3.3.0.8 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 THE WORLD'S MARITIME INDUSTRY IN THE 21ST CENTURY: CHALLENGES, EXPECTATIONS AND DIRECTIONS https://jurcon.ums.edu.my/ojums/index.php/jmat/article/view/7044 <p>The maritime industry is a cornerstone of global trade, responsible for transporting over 90% of the world’s goods. However, the 21st century has brought both new opportunities and unprecedented challenges for the sector. With the continued growth of global trade, rapid technological advancements, and shifting geopolitical dynamics, the maritime industry faces increasing pressure to adapt and innovate. Key challenges include the need for sustainability in the face of environmental concerns, such as the reduction of greenhouse gas emissions, marine pollution, and biodiversity loss. Technological advancements, such as automation, digitalization, and the adoption of green technologies, offer promising solutions but also pose operational and regulatory hurdles. Geopolitical tensions, particularly in strategically important regions like the South China Sea, add further complexity to the security and stability of global shipping routes. Furthermore, the evolving expectations of governments, businesses, and the public demand the maritime industry prioritize environmental responsibility, workforce welfare, and safety. This paper explores these challenges, outlines the expectations for the maritime sector, and identifies the key directions that will shape the future of the industry, emphasizing the role of innovation, collaboration, and sustainable practices. A comprehensive understanding of these dynamics is crucial for stakeholders to navigate the complexities of the modern maritime environment and ensure the industry's resilience and growth in the coming decades.</p> Ismail Ali, Kasim Mansur, Mosli Tarsat Copyright (c) 2025 https://jurcon.ums.edu.my/ojums/index.php/jmat/article/view/7044 Sun, 14 Dec 2025 00:00:00 +0800 ILLEGALISATION OF TRADITIONAL BORDER CROSSING AT SEBATIK MARITIME BORDER AREA BETWEEN INDONESIA AND MALAYSIA https://jurcon.ums.edu.my/ojums/index.php/jmat/article/view/7174 <p>This study examines the illegalisation of traditional border crossing practiced by local residents on Sebatik Island since 2012 and analyzes its socio-economic impacts on borderland communities. Sebatik is an island divided into two territories: the northern part belongs to Malaysia, while the southern part falls under Indonesian sovereignty. Historically, Indonesian and Malaysian communities around Sebatik have engaged in traditional cross-border mobility via maritime routes since 1967. These movements allowed border residents to meet their basic needs, including selling agricultural and fishery products, purchasing essential goods, and visiting relatives. However, between 2011 and 2013, Malaysia gradually closed its border gate in Tawau to travelers arriving directly from the Indonesian side of Sebatik, citing security and safety concerns. Since then, all traditional cross-border movements via the Sebatik–Tawau maritime route have been deemed illegal. Using a qualitative approach, this study traces the process of this illegalisation from 2011 to 2024 through interviews and field observations involving cross-border travelers, traders, and local government officials from both the Indonesian and Malaysian sides. The findings indicate that the illegalisation of traditional border crossing has significantly disrupted the lives of border residents. It has made it more difficult for people to visit their relatives due to the long distance to official exit and entry points, resulting in higher transportation costs and longer travel times. It has also eliminated opportunities for barter and traditional border trade, leading to reduced incomes, and restricted the supply of basic goods, thereby increasing prices. This study recommends border governance that reaffirms the traditional cross-border route between Tawau and Sebatik with improved facilities that adequately address security and safety concerns.</p> Sandy Nur Ikfal Raharjo, Hanizah Idris Copyright (c) 2025 https://jurcon.ums.edu.my/ojums/index.php/jmat/article/view/7174 Tue, 16 Dec 2025 00:00:00 +0800 ORANG LAUT TERSISIH DALAM PEMBANGUNAN KOTA BATAM https://jurcon.ums.edu.my/ojums/index.php/jmat/article/view/7175 <p>Kota Batam di Provinsi Kepulauan Riau sejak tahun 1980-an hingga kini, menjadi salahsatu kota industri utama di Indonesia dan pusat perekonomian nasional. Pesatnya Pembangunan Batam berimbas buruk pada masyarakat adat yang ada di Batam, salahsatunya Orang Laut. Tulisan mengkaji Orang Laut tersisih dalam Pembangunan Kota Batam. Kajian menggunakan metode penelitian sejarah dan metode etnografi. Dari penelitian diketahui, Orang Laut di Kota Batam direlokasi atau ‘dirumahkan’ ke sejumlah pulau yang ada, seperti Pulau Bertam, Pulau Gara, Tanjung Undap dan lainnya. Kehidupan Orang Laut yang mayoritas bekerja sebagai nelayan semakin sulit karena wilayah pesisir Batam terus dikembangkan untuk pengembangan industri. Reklamasi kawasan pesisir mengakibatkan berimbas pada hasil tangkapan ikan. Kejadian memilukan terjadi pada Orang Laut Pulau Air Mas, Kelurahan Ngenang. Perempuan Orang Laut dari daerah mencari pekerjaan lain menjadi pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Telaga Punggur, Batam.</p> Dedi Arman Copyright (c) 2025 https://jurcon.ums.edu.my/ojums/index.php/jmat/article/view/7175 Thu, 18 Dec 2025 00:00:00 +0800 PENGELOLAAN SUMBER DAYA KELAUTAN DITINJAU DARI ASPEK HUKUM MARITIM DI INDONESIA https://jurcon.ums.edu.my/ojums/index.php/jmat/article/view/7176 <p>Sumber daya alam merupakan karunia dari Tuhan Yang Maha Esa yang dianugerahkan kepada bangsa Indonesia sebagai kekayaan yang tak ternilai harganya. Indonesia sebagai negara maritim terluas didunia merupakan positioning yang sangat strategis bagi pemanfaatan sumber daya nya oleh karenanya baik secara regulatif tentu akan memperkuat legitimasi pemanfaatan sumber daya kelautan yang diperuntukan bagi kemakmuran Negara dan rakyatnya. Undang-undang no 32 tahun 2014 tentang Kelautan pada pasal 3 bahwa pemanfaatan sumber daya kelautan yakni pemanfaatan, keberlangsungan, pertumbuhan ekonomi, budaya, pelestarian, pengetahuan sumber daya manusianya, adanya kepastian, keadilan, kemanfaatan hukum dan kedaulatan sebuah negara. Kabupaten Indragiri Hilir sumber kelautan sebesar 109,212 ton/th dengan tingkat pemanfaatan sebesar 35.277,76 ton/th (32,30 %), artinya masih jauh dari serapan pemanfaatannya. Oleh karena itu perlu gagasan dan trobosan baik dari infrastruktur maupun regulasi untuk meningkatkannya. Tata kelola perikanan sebagian besar berorientasi pada industri perikanan dan pengolahan, pentingnya untuk melakukan pendekatan nasionalisasi sumber daya perikanan sebagai strategi untuk meningkatkan pemanfaatannya. undang-undang 32 tahun 2014 tentang kelautan pengelolaan sumber kelautan dan perikanan bukan saja pada aspek hasil perikanan, harus diperhatikan pada tata Kelola berbasis ekonomi biru, pengelolaan dan pemanfaatan berkelanjutan sumber daya laut dan pesisir. ada beberapa sebab yakni masalah yakni kesiapan infstruktur pendukung, regulasi daerah dan anggaran terpadu dalam penganggaran pembangunan maritim. Selain itu ada juga sumber daya manusianya untuk memudahkan sistem tata Kelola sumber kelautan itu sendiri.</p> Endri fahroni, Ahmad Ade Saputra, Asmail Khairi Copyright (c) 2025 https://jurcon.ums.edu.my/ojums/index.php/jmat/article/view/7176 Fri, 19 Dec 2025 00:00:00 +0800 LAUT CHINA SELATAN, LAUT SULU DAN LAUT CELEBES SEBAGAI PEMANGKIN MALAYSIA SEBAGAI NEGARA MARITIM https://jurcon.ums.edu.my/ojums/index.php/jmat/article/view/7177 <p>Laut China Selatan, Laut Sulu dan Laut Celebes adalah dua kawasan perairan penting yang menghubungkan Malaysia dengan negara-negara jiran di Asia Tenggara dan Pasifik. Dalam konteks geo-politik, geo-ekonomi dan geo-strategi Malaysia, kedua-dua laut ini mempunyai peranan yang signifikan dalam mempengaruhi dasar luar negara, keselamatan maritim, serta hubungan serantau dan antarabangsa. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji kepentingan Laut China Selatan, Laut Sulu dan Laut Celebes kepada Malaysia, dengan menumpukan pada aspek-aspek yang berkaitan dengan persempadanan wilayah, ancaman keselamatan maritim, serta pengurusan sumber daya alam. Persoalan utama yang ditangani adalah bagaimana kedua-dua kawasan ini mempengaruhi kestabilan politik dan ekonomi Malaysia serta cabaran yang dihadapi negara dalam memastikan kelangsungan keselamatan maritim dan kestabilan serantau.Dalam kajian ini, pendekatan kualitatif digunakan dengan menganalisis pelbagai sumber data yang merangkumi dokumen rasmi, laporan antarabangsa, serta kajian-kajian terdahulu mengenai geopolitik Laut China Selatan, Laut Sulu dan Laut Celebes. Metodologi ini membolehkan pemahaman yang lebih mendalam tentang cabaran dan peluang yang dihadapi Malaysia dalam menavigasi isu-isu maritim. Artikel ini mengaplikasikan teori geopolitik, geo-ekonomi dan geostrategi dalam kerangka pemikiran yang melihat kawasan laut ini sebagai pusat kepada pelbagai kepentingan negara besar serta aktor serantau yang terlibat dalam perebutan sumber daya alam dan kawalan laluan perdagangan global. Perbincangan dalam artikel ini menyorot beberapa aspek utama, termasuk isu-isu persempadanan wilayah antara Malaysia dan negara-negara jiran, ancaman keselamatan yang timbul daripada perlanunan dan jenayah rentas sempadan, serta peranan Malaysia dalam memastikan kelestarian sumber laut yang berharga. Dapatan kajian menunjukkan bahawa, walaupun Malaysia mempunyai kepentingan strategik yang besar dalam kedua-dua laut ini, masih banyak cabaran yang perlu diatasi melalui diplomasi serantau, penguatan kerjasama keselamatan maritim, serta peningkatan penguatkuasaan undang-undang.</p> Ismail Ali, Kasim Hj. Mansur Copyright (c) 2025 https://jurcon.ums.edu.my/ojums/index.php/jmat/article/view/7177 Fri, 19 Dec 2025 00:00:00 +0800 KARTOGRAFI SEBAGAI WACANA SEJARAH: ANALISIS KOLEKSI PETA LAUT CHINA SELATAN DALAM MUZIUM-MUZIUM VIETNAM https://jurcon.ums.edu.my/ojums/index.php/jmat/article/view/7215 <p>Kajian ini menjelaskan kartografi sebagai wacana sejarah dalam membentuk naratif kedaulatan Vietnam terhadap Kepulauan Paracel (Hoàng Sa) dan Kepulauan Spratly (Trường Sa) melalui koleksi peta yang dipamerkan di muzium maritim Vietnam. Antara objektif yang ingin dicapai melalui makalah ini adalah, menjelaskan tentang sejarah dan koleksi peta tradisional sebagai salah satu asas tuntutan Vietnam ke atas sebahagian fitur-fitur maritim di Laut China Selatan (LCS) melalui institusi permuziuman. Berdasarkan pendekatan kualitatif melalui kajian lapangan di Rumah Pameran (Muzium) Hoàng Sa (Da Nang), Galeri Trường Sa di Memorial Johnson South Reef (Cam Lam), dan Muzium Oceanografi (Nha Trang), kajian ini menilai fungsi peta tradisional, kolonial dan moden sebagai instrumen legitimasi sejarah dan mekanisme kesedaran maritim secara tidak langsung dalam konteks pertikaian di LCS. Dapatan menunjukkan bahawa, peta-peta Dinasti Nguyen, peta kolonial Perancis, peta Belanda abad ke-16, serta peta pentadbiran China digunakan secara tersusun untuk membina naratif perbandingan visual yang menonjolkan konsistensi sejarah Vietnam ke atas LCS. Melalui pameran yang menggabungkan sumber kartografi tempatan dan antarabangsa, muzium-muzium ini bukan sahaja memperkukuh memori kolektif dan patriotisme, tetapi juga berperanan sebagai medium wacana geopolitik yang menyumbang kepada pembentukan persepsi awam mengenai hak kedaulatan Vietnam. Kajian ini mencadangkan bahawa koleksi peta dalam institusi permuziuman perlu dilihat bukan sekadar sebagai artifak sejarah, tetapi sebagai alat strategik negara dalam mengartikulasikan identiti, legitimasi wilayah dan daya tahan diplomatik dalam landskap geopolitik LCS yang semakin kompleks.</p> Amy Azuan Abdullah, Baszley Bee Basrah Bee, Lai Yew Meng Copyright (c) 2026 https://jurcon.ums.edu.my/ojums/index.php/jmat/article/view/7215 Sat, 20 Dec 2025 00:00:00 +0800 ARTIFAK KAPAL KARAM TANJUNG SIMPANG MENGAYAU, KUDAT, SABAH https://jurcon.ums.edu.my/ojums/index.php/jmat/article/view/7217 <p>Kertas kerja ini membincangkan artifak daripada kapal karam Tanjung Simpang Mengayau yang ditemui pada kedalaman 12 meter di pesisir perairan Kudat, Sabah pada tahun 1990-an. Berbanding tapak kapal karam lain yang ditemui di Malaysia, kapal ini merupakan antara kapal karam tertua yang membawa pelbagai jenis muatan hasil dagangan. Tiga jenis artifak yang ditemui pada kapal ini ialah (i) logam dan (ii) seramik seladon dan tembikar batu. Fokus penelitian ialah muatan kargo artifak seramik dan logam sahaja manakala artifak kayu merupakan serpihan bahan kapal (bukan muatan kargo).&nbsp;Artifak seramik dikelaskan mengikut ciri morfologi yang terdapat pada setiap artifak seperti jenis, bentuk dan warna. Artifak logam pula dikelaskan kepada gong dan cermin. Hasil analisis dan&nbsp;klasifikasi ke atas kargo&nbsp;kapal karam Tanjung Simpang Mengayau mendapati bahawa kargo seramik dan logam ialah barangan dagangan bertarikh Dinasti Song (960 Masihi hingga 1127 Masihi) untuk tujuan pasaran perdagangan di Asia Tenggara sebagaimana artifak lain yang ditemui di tapak-tapak kapal karam lain di Asia Tenggara.</p> Masyella Masbaka, Ismail Ali Copyright (c) 2026 https://jurcon.ums.edu.my/ojums/index.php/jmat/article/view/7217 Sat, 20 Dec 2025 00:00:00 +0800 IRANUN DAN BALANGINGI: ANTARA PERLANUNAN DAN PEROMPAKAN LAUT DALAM KONTEKS PERADABAN MARITIM https://jurcon.ums.edu.my/ojums/index.php/jmat/article/view/7218 <p>Artikel ini membincangkan aktiviti maritim bersenjata yang dijalankan oleh komuniti Iranun dan Balangingi pada abad ke-18 dan ke-19 dengan meneliti sama ada mereka wajar digolongkan sebagai lanun (pirates) atau perompak laut (sea raiders) dalam konteks peradaban maritim Asia Tenggara. Aktiviti mereka sering digambarkan secara negatif dalam sumber kolonial, namun kajian ini berusaha menilai semula naratif tersebut dengan mempertimbangkan peranan mereka dalam struktur sosial, sistem kepemimpinan, dan ekonomi rampasan yang teratur. Penulisan ini mengemukakan hujah bahawa Iranun dan Balangingi membentuk satu bentuk peradaban alternatif yang berfungsi di luar kerangka negara-bangsa moden dan berasaskan kekuasaan laut. Objektif kajian ini adalah untuk menilai semula tanggapan kolonial terhadap aktiviti perlanunan serta mengenal pasti unsur peradaban dalam organisasi maritim mereka. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis dan karya sekunder. Hasil awal menunjukkan bahawa aktiviti mereka merupakan strategi ekonomi dan politik yang sah dalam ekosistem maritim Nusantara. Kajian ini penting untuk memperluas wacana sejarah maritim dan membina semula pemahaman terhadap hubungan antara kuasa, identiti, dan peradaban di laut.</p> Mohammad Sham Bin Mohammad, Josrin Masandal Copyright (c) 2026 https://jurcon.ums.edu.my/ojums/index.php/jmat/article/view/7218 Sun, 21 Dec 2025 00:00:00 +0800 PENGAPLIKASIAN INTERNET OF THINGS (IOT) DALAM KELESTARIAN PEMULIHARAAN HAIWAN TERANCAM DI MALAYSIA: KAJIAN KES TERHADAP SISTEM PEMANTAUAN ANAK PENYU DI PULAU BAKUNGAN, SANDAKAN SABAH https://jurcon.ums.edu.my/ojums/index.php/jmat/article/view/7219 <p>Pengintegrasian teknologi <em>Internet of Things (IoT)</em> dalam bidang pemuliharaan hidupan liar semakin mendapat perhatian sebagai pendekatan baharu yang mampu meningkatkan keberkesanan pengurusan spesies terancam. Dalam konteks Malaysia, penyu merupakan antara spesies marin yang paling kritikal dari segi kelangsungan populasi, khususnya di kawasan pendaratan utama seperti Pulau Bakungan, Sandakan Sabah. Kajian ini meneliti keberkesanan sistem pemantauan berasaskan IoT dalam mengurus sarang dan anak penyu, di samping menilai penerimaan komuniti serta implikasi sosial yang timbul daripada penggunaan teknologi tersebut. Menggunakan reka bentuk kajian kualitatif melalui temu bual separa berstruktur, pemerhatian lapangan, dan analisis dokumen, kajian ini mendapati bahawa IoT berupaya menyediakan data suhu sarang yang lebih tepat, membolehkan pemantauan masa nyata, dan mengurangkan kebergantungan kepada kaedah manual yang sering terdedah kepada ralat manusia. Dapatan turut menunjukkan bahawa penerimaan komuniti terhadap teknologi adalah positif, namun dipengaruhi oleh faktor seperti literasi digital, sokongan institusi, dan keberlanjutan kos penyelenggaraan. Cabaran teknikal seperti kestabilan rangkaian, ketahanan <em>sensor</em>, dan kebergantungan kepada tenaga solar turut dikenal pasti sebagai kekangan utama. Secara keseluruhan, kajian ini menegaskan bahawa pengaplikasian IoT bukan sahaja meningkatkan kecekapan konservasi, tetapi juga membuka ruang kepada pendekatan pengurusan berasaskan data yang lebih sistematik. Namun, kejayaan jangka panjang memerlukan integrasi antara teknologi, pengetahuan tempatan, dan dasar pemuliharaan maritim yang lebih menyeluruh.</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> M. Malik Ag Rasin, Ismail Ali, Mosli Tarsat, Awang Bono Copyright (c) 2026 https://jurcon.ums.edu.my/ojums/index.php/jmat/article/view/7219 Mon, 22 Dec 2025 00:00:00 +0800 TRACKING THE FUTURE OF THE OCEAN: A PERSPECTIVE FROM THE PRESENT AND PAST HISTORY https://jurcon.ums.edu.my/ojums/index.php/jmat/article/view/7220 <p>The ocean, a vast and dynamic resource, has been a pivotal element in shaping human history and will continue to influence the future of civilization. <em>Tracking the Future of the Ocean: A Perspective from the Present and Past History</em> seeks to explore how historical maritime practices and contemporary challenges intersect to guide the future of ocean management and conservation. The purpose of this article is to examine the evolving relationship between humanity and the ocean, with a focus on identifying lessons from the past that can inform future strategies. The central question this study addresses is: How can a historical understanding of human interaction with the ocean guide us in addressing present and future maritime challenges, particularly in the areas of environmental sustainability and global governance? The methodology employed in this study combines historical analysis with contemporary case studies, examining key moments in maritime history alongside modern trends such as climate change, ocean pollution, and the rise of new maritime technologies. The theoretical framework draws on interdisciplinary approaches, incorporating theories of environmental history, sustainability, and political ecology to understand the complex dynamics between human activity and ocean ecosystems. Key findings suggest that while historical maritime practices often led to overexploitation and environmental degradation, there are valuable lessons to be learned from past successes in marine resource management and conservation efforts. The study emphasizes the importance of integrating traditional knowledge with modern scientific approaches to address emerging challenges such as overfishing and habitat loss. Furthermore, the article highlights the critical role of global cooperation and policymaking in shaping a sustainable future for the ocean. Finally, the article outlines key areas for future research, including the impact of emerging technologies on ocean ecosystems, the potential for sustainable maritime industries, and the role of international governance in ocean conservation. This study concludes that a holistic understanding of both past and present oceanic dynamics is essential in ensuring a balanced and sustainable future for the world’s oceans.</p> Ismail Ali, Hinmin Chiam Tah Kong Copyright (c) 2026 https://jurcon.ums.edu.my/ojums/index.php/jmat/article/view/7220 Fri, 26 Dec 2025 00:00:00 +0800